Scroll to Top

Di tengah pandemi, “The Williams” memilih menceritakan jati diri lewat “The Wanderer Tune”.

By admin / Published on Sunday, 15 Aug 2021 00:06 AM / No Comments / 91 views

The WilliamsCadaazz.com – Di tengah sesaknya kehebohan pandemi dan level-levelnya, The Williams memilih menceritakan perjalanan perenungan jati diri. “The Wanderer Tune” dipilih sebagai judul untuk cerita ini; cerita tentang pencarian seorang pengembara yang ingin mencintai dirinya sendiri dan berujung pada pencarian yang tak pernah selesai “..I travel so far to where you are (where you are), but you’re still too far, I’ll never find (never find)..”.

Terbentuk pada tahun 2009 di Medan dengan personel awal Eka Sitio (vokal/gitar), Yosi Sinaga (bass), Erwin Sinaga (gitar), dan Bagus Heru (drum), The Williams memilih aliran alternative rock secara umum dengan subgenre yang lebih condong ke musik ala british sound seperti britpop.

Selama tahun 2009 sampai dengan 2013 The Williams telah melepas 3 single; Morrissey (2010), Why (2010), dan Moody Moodpacker (2013). Sepanjang perjalanannya, The Williams telah melakukan bongkar-pasang personel, hingga personel ter-update mereka saat ini adalah Eka Sitio (vokal), Tengku Ariy (gitar), Bona Nadeak (gitar), dan Fariz Ilham (bass). Tahun-tahun setelahnya, The Williams yang bisa dikatakan melakukan hiatus panjang hingga awal tahun 2021 kembali melepas single “Felicia”.

The Williams

“The Wanderer Tune” yang ditulis oleh Eka Sitio menjadi single kedua di tahun ini. Kali ini The Williams mengajak vokalis perempuan kenamaan kota Medan, Keke Allysha (eks personel band Shadowplay) sebagai pemandu cerita lagu ini. Bersama produser Ringo Records yakni Tengku Ariy Dipantara, “The Wanderer Tune” direkam, diproses mixing-mastering, dan dipublikasi juga oleh Ringo Records.

“The Wanderer Tune” tampaknya benar-benar terinspirasi oleh The Smiths; mulai dari sampul artwork lagu yang “meniru” gaya artwork The Smiths. Untuk musiknya, The Williams mengusung progresi chord kece ala Britpop dengan lirik yang lugas dan dibalut dengan sound 80an ala Jangle Pop seperti R.E.M, The La’s, The Byrds dan sudah barang tentu The Smiths. Lagu ini bisa menjadi varian opsi untuk didengar di tengah pilihan musik ‘jaman sekarang’ yang (kebanyakan) menggunakan instrument elektronik, atau setidaknya untuk bernostalgia. (SPR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

UA-131866695-1