Scroll to Top

Musisi Asal Austin “Dayglow” Merilis Versi Full Untuk Debut LP “Fuzzybrain”.

By admin / Published on Tuesday, 15 Dec 2020 22:10 PM / No Comments / 90 views

Fuzzybrain

Cadaazz.com – Musisi energetik dan penuh semangat Dayglow (aka Sloan Struble) baru saja merilis versi full untuk debut LP Fuzzybrain. Di album ini, para penggemar dapat mendengarkan single “Can I Call You Tonight” serta lagu baru “Nicknames” dan “Listerine.” Di album full-length debutnya ini, musisi asal Austin ini menampilkan bakatnya yang luar biasa dalam meramu penderitaan emosi — membuatnya tidak hanya menyentuh, tetapi juga membuat penderitaan itu terasa lebih ringan. Dengan melodi yang cerah riang, petikan gitar yang menyenangkan, serta vokal yang bersinar, album ini menghadirkan euforia yang dreamy, meskipun lirik-liriknya lugas menyentuh tentang isolasi, kecemasan, dan kehilangan.

“Tujuanku bermusik sejak dulu adalah membuat orang merasa lebih baik, dan harapannya bisa saling membantu juga,” ungkap penyanyi dan penulis lagu yang nera,a asli Sloan Struble. “Aku percaya bahwa seni memberikan sesuatu yang baik untuk dunia, selama senimannya dapat menyadari potensinya dan memahami tanggung jawabnya.”

Versi baru dan full untuk album ini juga menampilkan dua lagu baru. Bulan lalu, ia meluncurkan “Nicknames”, lagu yang tajam dan menyentak, dan kini Dayglow kembali dengan “Listerine”, lagu dengan vokal Struble yang penuh percaya diri dan alunan gitar yang kreatif. “Kedua lagu ini ditulis di saat yang bersamaan dengan lagu-lagu lain di album ini, dan bisa dibilang masih di satu universe Fuzzybrain,” ungkap Struble. “Semua lagu di album ini saling berhubungan dalam satu dunia dan tujuan Fuzzybrain, makanya aku merasa nggak cocok kalau merilis kedua lagu ini terpisah.”

Lagu-lagu di album Fuzzybrain yang dirangkai dengan piawai ini menampilkan optimisme yang tulus. Struble sendiri berasal dari Aldeo, Texas – sebuah kota kecil di Fort Worth yang ia sebut sebagai “kota kecil yang gila sepak bola”. Ia pun merasa out-of-place selama masa remajanya, dan akhirnya menjadikan musik sebagai pelarian dari sekelilingnya. “Aku tidak terlalu nyambung dengan apa yang teman-temanku bicarakan di sekolah. Makanya, aku mulai terobsesi membuat musik. Ya, jadi terapi untukku juga,” ungkap Struble yang kini berusia 20 tahun. “Aku menulisnya di kepalaku sepanjang hari di dalam kelas, kemudian sampai di rumah aku malah membuat lagu bukannya mengerjakan PR ku. Tanpa kusadari, aku sudah membuat sebuah album.”

Demi mempertahankan nuansa personal Fuzzybrain, Struble membuat album ini seorang diri. “Biasanya musisi membuat demo yang dikirimkan ke orang-orang untuk mendapatkan feedback, tapi tidak ada orang lain kecuali orang tuaku yang mendengarkan lagu ini hingga saat aku merilisnya,” ungkapnya.

Setelah merilis Fuzzybrain seorang diri di musim gugur tahun 2018, Struble mendapat banyak perhatian untuk albumnya, mengumpulkan banyak penggemar yang terpukau oleh aura positif yang murni dari karya Dayglow. “Banyak yang berkata padaku bahwa album ini membuat mereka gembira, atau membantu mereka melewati saat sulit,” tuturnya. “Ini adalah goal terbesarku, aku sangat senang mendengar banyak orang yang merasa seperti itu.”

Bekerja seluruhnya seorang diri dengan perlengkapan yang seadanya – gitarnya, komputer, keyboard bekas yang dibeli di Goodwill – Struble menuangkan pikirannya ke dalam lagu-lagu yang memukau di album Fuzzybrain ini. Di lagu “Fuzzybrain”, ia menumpahkan lirik dan chord yang hyper-introspective (“Scattered mind, I call it a friend/I wish I thought a bit less and spoke up instead”), bersamaan dengan melodi mendayu dan synth yang cerah, membuat mood lagu ini semakin manis.

Sementara itu, di lagu “Dear Friend,” yang merupakan momen paling melankolis di Fuzzybrain, ia menawarkan serenade lembut untuk sahabat pena di masa lalu dengan sensitivitas yang menyentuh hati dan indah (“I know the world is changing quickly/And I couldn’t tell you why/It’s beyond my understanding/But I’d love it if we tried”). Kemudian, di lagu “Hot Rod,” Dayglow memukau pendengarnya lewat pemberontakan yang sopan, mempertajam lagu ini dengan gitar solo dan lirik yang dinyanyikan dengan lembut (e.g., “I’m sorry for not wanting to be your décor”).

Meskipun Struble mendeskripsikan Fuzzybrain sebagai “album yang benar-benar DIY”, album ini tampil selayaknya album profesional lain dan ini semua merupakan buah dari etos kerjanya yang tinggi. Seperti di lagu “Can I Call You Tonight?”. “Aku sudah membuat instrumental untuk lagu ini berbulan-bulan sebelum aku menulis liriknya,” ungkapnya. “Aku berulang kali memperbaiki lagu ini. Suatu hari, aku baru saja selesai menelepon temanku dan tiba-tiba mati lampu. Aku pun mulai menulis lirik dari percakapan teleponku dan mengubahnya menjadi lirik.” Dalam menyelesaikan “Can I Call You Tonight?”, Struble membuat kurang lebih 30 versi sebelum akhirnya memilih satu versi yang paling tepat dengan irama lagunya. “Aku bolak-balik dari kamarku ke mobilku, mendengarkan musiknya berulang kali, dan memastikan semuanya sesuai dengan tujuan lagu ini sendiri,” ujarnya.

Kini dengan audiens yang berasal dari berbagai belahan dunia, Dayglow memiliki misi untuk membuat musik yang memberikan harapan, menyerukan perdamaian, dan yang paling penting untuknya, menanamkan semangat komunitas yang kuat. “Ketika orang datang ke konserku, tentu aku ingin membuat mereka bersenang-senang — tapi lebih dari itu, aku ingin membuat mereka semua berteman,” ungkapnya. “Pengaruh dari satu konser hanya sebentar saja, tapi jika kamu menemukan teman baru di sana, pengaruhnya akan lebih lama. Aku ingin sekali orang-orang membagikan pengalaman ini bukan hanya dengan musik.” (SPR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

UA-131866695-1