Scroll to Top

Memadukan Film dan Lagu, “Buku Harianku” siap menghibur keluarga Indonesia.

By admin / Published on Sunday, 15 Mar 2020 03:09 AM / No Comments / 228 views

Cadaazz.com – Tidak banyak film Indonesia yang sepanjang durasinya berhiaskan lagu-lagu anak sehingga bisa menjadi tontonan untuk keluarga. Bro’s Studio bersama Bluesheep Entertainment memahami betul hal tersebut sehingga memproduksi film BUKU HARIANKU. Film ini tayang di bioskop-bioskop tanah air mulai 12 Maret 2020.

Menurut sutradara Angling Sagaran, film yang naskahnya ditulis oleh Alim Sudio ini adalah sebuah film keluarga yang menawarkan paket lengkap.

“Ada konflik antara mertua dengan menantu, kakek dengan cucu, ibu dengan anak, suami dengan istrinya, juga konflik sesama anak. Ada kesedihan dan perasaan haru. Sangat menyentuh. Cocok sebagai tontonan anak dan dewasa. Jadi secara singkat film Buku Harianku ini bahan dasarnya adalah keluarga, sementara bumbunya adalah musikal,” ungkap Angling Sagaran disiaran pers yang diterima redaksi, Jumat (13/3/20).

Terpilih sebagai pemeran utama adalah Kila Putri Alam, penyanyi cilik berusia 10 tahun yang merupakan alumni Indonesian Idol Junior 2014. Selain bermain, Kila juga turut mengisi album soundtrack film ini yang berisi 10 lagu.

Album yang diproduksi Bro’s Music ini sudah bisa didengarkan melalui berbagai platform musik digital karena telah diluncurkan sejak 14 Februari 2020. Beberapa lagu dalam album tersebut, antara lain “Burung Parkit”, “Bahasa Isyarat”, dan “Buku Harianku” yang menghadirkan duet Kila dengan aktor senior Slamet Rahardjo Djarot (71 tahun), pemeran Kakek Prapto.

Proyek film panjang perdana Bro’s Studio dan Bluesheep Entertainment ini aslinya memang berawal dari niat memproduksi album musik. Melihat ketertarikan Kila pada dunia akting, akhirnya disepakati untuk membuat pula sebuah film yang landasan ceritanya berdasarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Kila.

“Unsur utama film ini adalah lagu, di mana lagu-lagu tersebut ditulis untuk anak-anak, dengan bahasa anak-anak, dan aransemennya tetap dibuat menghibur untuk anak-anak. Setelah menonton filmnya, orang masih bisa menikmati lagu-lagunya. Hal tersebut membuat pengalaman menikmati Buku Harianku tidak berhenti cuma lewat film saja,” kata Andri Putra, salah satu eksekutif produser dari Bluesheep Entertainment.

Bagi Alfa Dwiagustiar yang menjadi salah satu penata musik dalam film ini selain Irvan Natadiningrat, membuat musik ilustrasi untuk film drama musikal anak adalah impian yang jadi kenyataan. Materi lagu-lagu Kila yang bagus membuatnya juga lebih bebas dalam mengekspresikan musiknya.

“Perilisan film Buku Harianku sangat positif sebab kita sudah sangat kekurangan film anak-anak yang sarat pesan moral, tapi tidak terkesan menggurui. Kita juga sudah lama sekali tidak melihat sebuah buku harian dan kebiasaan menuliskan sesuatu yang jujur ke dalamnya,” kata Alfa Dwiagustiar.

Produser Bobby Bossa dari Bro’s Studio berharap kehadiran BUKU HARIANKU bisa ikut memperkaya keragaman perfilman Indonesia dan menambah tontonan hiburan untuk keluarga Indonesia.

“Selain menghibur, ada banyak nilai keluarga –dalam arti luas yang juga melibatkan kakek-nenek, para asisten rumah tangga di rumah, bahkan teman-teman di lingkungan tempat tinggal– dalam film ini. Karena manusia sebagai mahluk sosial, biasakan anak untuk bersosialisasi atau berteman tanpa membeda-bedakan. Biarkan mereka bermain bersama,” tambah sang produser.

Berkisah tentang Kila, anak berusia delapan tahun yang ceria, cerdas, kritis, tapi juga keras kepala. Dia senang mencurahkan isi hati dengan menulis di buku harian.

Suatu ketika, oleh ibunya Kila dititipkan sementara sekaligus mengisi masa liburan ke rumah kakeknya, Prapto Winoyo, di Desa Goalpara, Sukabumi.

Di desa yang asri tersebut Kila bertemu kembali dengan kawan lamanya, Rintik, yang diproteksi oleh ibunya karena menyandang disabilitas. Pun demikian, melalui penggunaan bahasa isyarat mereka berdua bisa lancar berkomunikasi dan menjadi sahabat.

Keceriaan Kila semakin bertambah karena mendapatkan teman-teman baru yang sebaya di desa tersebut. Bersama mereka menghabiskan waktu dengan bermain, bernyanyi riang, bahkan ikut latihan baris-berbaris dengan komando Kakek Prapto yang seorang pensiunan tentara.

Ternyata tanpa mereka sadari, keceriaan bermain di desa tersebut terusik oleh masalah yang ditimbulkan oleh seorang pengusaha properti bersama dua asistennya.

Berbekal rasa keingintahuannya terhadap berbagai masalah dan kepedulian terhadap sekelilingnya, Kila bersama teman-teman ciliknya terpanggil untuk ikut membantu warga desa keluar dari jeratan perangkap sang pengusaha properti.

Film ini didukung para pemain seperti Kila Putri Alam, Slamet Rahardjo, Dwi Sasono, Widi Mulia, Widuri Putri Sasono (Rintik), Gary Iskak, Bacun Hakim, Astanur Cahya, Ence Bagus, Wina Marrino, Tizza Radia, Fairel K. Ramadhan, Daffa Raqila Putra, Kayyisah Zahra Rusydian, dan Samanta Zulaikha. (@enny_hdyn).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

UA-131866695-1