Scroll to Top

Cinta Tanah Air Tanpa Pamrih Di Film “Rumah Merah Putih”.

By admin / Published on Tuesday, 18 Jun 2019 19:27 PM / No Comments / 76 views

Cadaazz.com – Setelah merilis trailer dan poster beberapa bulan lalu, akhirnya film “Rumah Merah Putih” produksi rumah produksi Alenia Pictures akan tayang pada 20 Juni 2019 yang terinspirasi dari kehidupan serta budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Menurut Ari Sihasale sang sutradara, setelah vakum 5 tahun Alenia kembali mempersembahkan sebuah film Indonesia dan skenario film ini sudah sekitar 5 tahun di buat oleh sang penulis skenario

“Setelah 5 tahun kami hadir untuk buat film Indonesia.  Film ini kita buat agar rasa cinta pada tanah air ini jangan sampai hilang. Saya melihat itu dari anak – anak perbatasan Saya melihat anak-anak di perbatasan NTT dan Timor Leste, dalam keadaan apa pun tetap mencintai Indonesia. Apalagi di kota-kota besar, jangan sampai putus tali persaudaraan dan silaturahmi, karena perbedaan pendapat saja. Bapak dan ibu boleh beda tapi kita Indonesia,”ujar Ari Sihasale disela konfrensi pers dan screening media di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (17/6/19).

“Tidak ada hubungannya dengan situasi politik saat ini apalagi video viral penaikan bendera waktu itu, karena skenarionya lima tahun lalu di buatnya,” tambah Ale.

Hal itu juga dikatakan Nia Zulkarnaen selaku produser film Rumah Merah Putih soal diproduksinya film tersebut.

“Sudah ditulis oleh bang Jerry (Jeremias) sejak lima tahun yang lalu, tetapi kami merasa saat ini yang paling tepat untuk merilis Rumah Merah Putih. Semoga jadi penyejuk hati, bahwa cinta Indonesia bukan karena apa pun, tanpa batas, dan tanpa pamrih. Semoga film ini bisa menjadi pemersatu bangsa di tengah keberagaman,” kata Nia Zulkarnaen.

Dari segi cerita film ini kental dengan sisi nasionalisme, persahabatan, serta kekeluargaan. Persahabatan anak – anak perbatasan Indonesia yang cinta akan tanah airnya, ketika salah satu temennya kehilangan cat warna merah dan putih seminggu sebelum hari kemerdekaan 17 Agustus dilaksanakan.

Perjuangan kedua anak perbatasan Indonesia ini disuguhkan cukup dramatis. Bagaimana proses keduanya mencari uang untuk membeli cat untuk mengecat rumah saat hari kemerdekaan hingga menyebrang ke perbatasan.

Tak hanya haru biru di suguhkan di film ini, kelucuan yang membuat penonton tersenyum hingga tertawa juga disuguhkan di film yang cukup menghibur penonton.

Rasa persahabatan dan rasa kebersamaan terlihat di film ini, bagaimana anak – anak perbatasaan Timur Indonesia mencintai tanah airnya tanpa pamrih. Hal ini di perkuat oleh karakter Oscar yang tetap ingin tinggal di Indonesia tak mau pergi ke Deli negara Timor Leste meski sakit, rasa cinta tanah air yang besar di perlihatkan Oscar. Dan ketika Farel memanjat tiang bendera untuk mengambil tali kaur yang menyangkut saat para petugas pengerek bendera merah putih tak bisa mengibarkan bendera merah putih.

Akting para pemain anak – anak yang asli dari NTT sangat natural, meskipun diketahui para pemerannya belum pernah berakting sebelumnya, namun tim Alenia Pictures cukup berhasil membuat para pemeran anak mengeksekusi karakter masing – masing secara natural dan pas.

Karakter Farel dan Oscar membuat kita berkaca betapa kuatnya persahabatan bisa menyelesaikan sebuah masalah meski harus berjuang. Betapa cintanya mereka pada tanah air ini meski mereka jauh di Indonesia Timur.

Keindahan Nusa Tenggara Timur juga disuguhkan di film ini, meski ada beberapa view terlihat gersang, namun keindahan Indonesia Timur memang tak ada duanya. Tanah, gunung, tanaman kaktus mempercantik views di film ini.

Film Merah Putih berkisah tentang Farel Amaral (Petrick Rumlaklak) dan Oscar Lopez (Amori De Purivicacao) yang tinggal di perbatasan NTT dan Timor Leste. Meskipun hidup sederhana, rasa cinta mereka terhadap tanah air sangatlah dalam. Bersama kedua temannya Anton dan David mereka mengikuti lomba panjat pinang, dalam rangka memeriahkan 17 Agustus, bukannya kompak mereka malah bertengkar hadiah mana yang harus diambil duluan. Mereka gagal dan saling menyalahkan. Masalah makin rumit ketika dua kaleng cat merah putih milik Farel hilang entah kemana.

Film yang skenarionya di tulis oleh Jeremias Nyangoen ini dibintangi oleh Pevita Pearce, Yama Carlos, Petrick Rumlaklak, Amori De Purivicacao, Shafira Umm, Abdurrahman Arif, dan lain-lain ini  akan serentak tayang di bioskop Indonesia pada 20 Juni 2019. (@enny_hdyn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

UA-131866695-1