Scroll to Top

Group Heavy Rock Asal Magelang, KLANDESTIN Rilis Album “Green Acid Of Last Century”

By admin / Published on Tuesday, 24 Apr 2018 21:32 PM / No Comments / 259 views

Cadaazz.com – KLANDESTIN adalah sebuah project musik berat asal Magelang, Jawa Tengah. Nama KLANDESTIN diambil dari bahasa Indonesia serapan yang jarang digunakan yang berarti “secara rahasia / secara diam diam”, dan sesuai dengan kesepakatan para personil kami pada awal membentuk KLANDESTIN ini secara diam diam dan rahasia namun mempunyai keseriusan dalam berkarya dan melakukan apapun. Berdiri pada 2016 atas keterlibatan dari Combohell (gitar) dan Puguh Adi Pangeksi (vokal dan Bass), serta Rizki Anggriawan (drum) yang setelah beberapa kali sesi jamming, lalu memantapkan diri berformasi trio dan merilis single berjudul Halusinasi pada 1 Januari 2017 silam dan kami unggah di akun Soundcloud kami agar bisa diunduh secara gratis oleh pendengar. Tidak disangka responnya positif dari para teman teman pendengar dan media.

Lalu pada 24 Februari 2017 kami seolah ingin mengulang respon positif dan tidak ingin berhenti membuat sesuatu, terwujudlah sebuah karya visual berupa musik video dari single pertama kami “Halusinasi”. Waktu pembuatan dan proses video terhitung sangat cepat dan singkat karena dimulai pada tgl 1 Februari 2017, namun dari cepatnya proses pembuatan video klip halusinasi ini tidak mengurangi hasil akhir dari video klip ini dan bisa dikatakan sangat mewakili KLANDESTIN dengan halusinasinya. Video klip ini mengambil setting di dua lokasi, salah satunya di sebuah rumah sengketa yang sudah tidak berpenghuni dan rusak selama kurang lebih 20 tahun dan dikenal angker oleh penduduk sekitar. Konsep dari video klip adalah tidak lain dan tidak bukan sejalur cerita dengan apa yang dilirikan di single “halusinasi” bahwa seseorang yang depresi dan pesimis dalam hidup namun tidak bisa mencari jalan keluarnya, dan malah hanya bermain dengan halusinasinya untuk sebuah jalan keluar dari depresi dan rasa pesimis hidupnya.

Video klip ini secara perdana diunggah dan ditayangkan di kanal Youtube KLANDESTIN sendiri. Dan pada tanggal 24 februari tersebut secara bersamaan KLANDESTIN juga membuat screening video klip “halusinasi” yang diprakarsai HELLFUZZ record di sebuah Coffee shop di Kota Magelang dengan konsep gigs dan talkshow yang dihadiri sekitar 200 orang. KLANDESTIN memainkan gaya musik yang dominan lambat, berat, dan redup khas Doom Stoner dengan mengambil ketukan yang stabil dan stagnan di beberapa lagu, dibalut dengan sound gitar dan bass yang berat dan berkarakter dengan fuzz nya dan alunan riff yang kelam, serta corak vokal yang stabil dengan nuansa flanger sebagai alunan nada yang seperti membawa ke tingkat kesadaran tertingi.

Pada Mei 2017, setelah melalui proses seleksi materi-materi hasil jamming dan perluasan influence dalam bermusik kami pun sepakat memulai proses rekaman delapan materi untuk album penuh perdana kami. Proses rekaman dilakukan secara berangsur-angsur dengan sistem penjadwalan yang sudah disepakati oleh para personil dikarenakan agar tidak menggangu pekerjaan dan aktivitas utama masing-masing anggota KLANDESTIN di luar dari band ini. Di dalam proses rekam yang panjang dan menyenangkan tersebut kami dokumentasikan lewat video dan foto yang kami unggah di sosmed official kami,dan tanpa ada angin dan hujan tiba tiba kami ditawari Hellas Records dari bekasi dan Skullism Records dari Bali untuk meriliskan album kami. Dan seperti pucuk dicinta ulam pun tiba kami menawarkan kepada 2 label independent tersebut untuk meriliskan dalam versi yang berbeda, Hellas records merilis dalam versi CD, sedangkan Skullism Records merilis dalam versi Cassette.

Dan akhirnya proses rekaman yang lumayan panjang tersebut selesai pada akhir Februari 2018 dengan menyisakan proses pemolesan akhir untuk finishing materi yang selesai pada pertengahan Maret 2018 sebelum masuk ke tahap replika cd dan kaset yang dirampungkan pada awal April 2018 oleh Hellas Records dan Skullism Records. Debut Album KLANDESTIN yang diberi tajuk “Green Acid Of Last Century” ini berisikan 8 Track ini resmi dirilis pada 4.20.2018. Isi dari album ini yang dibuka dengan suara suara dari burung gagak dan hembusan angin malam yang seram dan kelam sehingga menggambarkan diri kita berada di sebuah entah berantah yang gelap suram dan kelam. “Acid Green” adalah track pembuka yang berisi riff riff yang berat tanpa ada satupun lirik kata di dalamnya, track ini adalah seperti sebuah kunci pembuka gerbang menuju jalan lintas alam yang akan membuat alam bawah sadar seolah memasuki dunia yang asing.

Beralih ke track kedua yaitu “Halusinasi”, single pertama kami yang kami aransemen ulang untuk album debut kami ini sekaligus satu satunya track yang liriknya berbahasa indonesia ,bercerita tentang bercerita tentang dimensi lain dari sesesorang yang sering membawa ke dalam sebuah khayalan dan halusinasi yang berbeda dengan kenyataan. Track ketiga “Socotra Land” adalah bercerita tentang sebuah pulau terpencil di sebelah timur ujung benua afrika yang dianggap mistis dan aneh, mulai dengan hewan samapi tanaman yang aneh ada disana, dan beberapa orang percaya bahawa disitu banyak mahluk mahluk astral sampai mereka menjuluki the Land Of Djin, pulau itu sebagai lambang bahwa di dunia nyata yang kita tempati ini sekarang pun mulai seperti itu banyak keanehan dan ketidak normalan mahluknya.

Track keempat “Doomsday“ dimulai dari riff gitar yang bluessy ala Black Sabbath yang terkesan angker, track ini menceritakan khayalan dan imajinasi kita bahwa memang akhir zaman sudah memasuki prosesnya, keganjilan dan keanehan yang ada di dunia ini adalah salah satu tandanya, kebanyakan manusia sudah tidak takut apapun termasuk Tuhan beserta kiamatnya dunia. Berlanjut ke track lima “Hell in the World“ lagu yang cukup spiritual, dibuka oleh penggalan sumpah seorang anak perempuan suku maya dari sebuah film yang meramalkan akan datang kehancuran dan kebinasaan terhadap orang orang yang rakus,gila kekuasaan dan sudah tidak takut apapun, lalu di dalam track ini kami membuat beberapa part ambience dari petikan gitar yang dalam dan dibalut lirik yang menceritakan kehancuran dunia yang membuat semua di dalamnya berubah, mulai dari manusia yang haus akan darah sampai langit yang sudah menjadi hitam.

Track keenam “Black Smoke“ adalah track yang paling anthemic dari semua track yang ada di album ini, langsung dibuka dengan riff yang meledak. Menceritakan proses kebinasaan mahluk mahluk yang ada di dunia ini saat menemui ajalnya, mulai dari degup jantung yang berhenti sampai memasuki ruang hampa hitam yang sunyi dan gelap. Secara artian lirik track ini menjadi penyambung dari track sebelumnya. Berlanjut ke track ketujuh “The Green Aurora“, track yang juga cukup spirituil secara musik, karena langsung dibuka dengan ambience riff ala OM , dan penggalan dialog dari film horor fiksi tahun 1970an berjudul the red planet. Di track ini bercerita tentang khayalan dan fantasi manusia akan menemukan sebuah dunia baru yang nantinya akan menjadi rumah mereka yang baru karena dunia yang lama sudah rusak dan tidak bisa untuk menjadi keberlangsungan hidup mereka lagi karena ulah mereka sendiri. Track terakhir “Last century“ diawali riff gitar yang berat dan fuzzy, dan vocal yang mengalun seperti membaca sebuah doa. Secara lirik track ini menceritakan kepasrahan dan keputusaaan manusia menghadapi akhir dari dunia yang sebelumnya dengan sombong tidak takut dan akan siap menghadapinya. Manusia pada akhirnya hanya meratapi dan berharap kepada sebuah nama, yaitu Tuhan.

Diakhir part track ini juga ada intrumen cello yang akan menambah dramastis dan kelamnya track ini. Dari segi lirik, KLANDESTIN menggunakan Bahasa Inggris dan satu track Berbahasa Indonesia. Untuk tampi-lan luar (ilustrasi, graphic dan penataan letak) dipercayakan kepada Agil Gyong (Firebird) dan Fany Sejati (Fornicaras). Spirituil, megah, cantik nan indah, namun tidak menghilangkan esensi gelap dan suram yang ingin ditonjolkan oleh KLANDESTIN. Salam dari KLANDESTIN. (SPR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.