Scroll to Top

Film Dreadout Bikin Marsha Aruan Capek Kesurupan dan Jefry Nichol Susah Berlogat Sunda.

By admin / Published on Friday, 04 Jan 2019 03:11 AM / No Comments / 153 views

Cadaazz.com – Artis muda Marsha Aruan mengaku capek saat melakukan adegan – adegan kesurupan dalam film terbarunya “Dreadout“. Bahkan diakui artis yang berpacaran dengan salah satu anak Maia Estianty El Rumi ini, banyak melakukan adegan kesurupan di filmnya menguras tenaga.

“Tidak hanya sekali beradegan kesurupan. Pas adegan kesurupan capek banget. Soalnya bayangin aja kan syutingnya lama banyak adegan kesurupan nggak cuma sekali aja benar-benar total banget dan bener – bener nguras tenaga sih,” ujar Marsha Aruan saat ditemui di sela konfrensi pers dan Screening bersama awak media di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/1/19).

Marsha Aruan merasa dirinya sudah menampilkan yang terbaik dalam aktingnya tersebut. Dari mulai persiapan hingga masuk proses syuting dirinya sudah tampil all out dan profesional.

“Aku jadi Jessica. Nah Jessica ini banyak adegan kesurupan karakter hantu di film ini. Sempat takut banget karena kalau biasanya kan mungkin kesurupan ya udah gitu aja, tapi kan itu benar-benar seperti kesurupan standarnya lebih tinggi. Dan pas film jadi ya hasilnya seperti yang temen – temen lihat tadi,” tambah Marsha.

Kalau Marsha Aruan terkuras tenaganya dalam adegan kesurupan, Jefri Nichol yang juga terlibat dalam film Dreadout mengaku kesulitan dalam logat sunda bahasa yang digunakan di film tersebut.

“Alhamdulillah syuting lancar tanpa ada kendala. Susahnya logat Sunda saja sih, sebelumnya enggak pernah sama logat-logat Sunda. Tidur pun dengar lagu gamelan Sunda,” papar Jefri Nichol.

Penggunaan logat sunda menurut Kimo Stamboel, sutradara, produser sekaligus penulis naskah mengatakan adat Sunda sengaja disusupkan untuk mempertahankan identitas game yang diciptakan Rachmad Imron. Dalam film, ada mantra dan dialog yang menggunakan bahasa Sunda.

“Gua menghargai game aslinya. Game itu dimainkan dan ada beberapa bahasa Sunda, ngobrol sama kreator game ini dia memang mengambil latar belakang Sunda. Jadi, karena itu gua harus mengikuti banget kayak asli game-nya. Itu benar-benar all in Sundanese. Makanya latar belakangnya kita mengambil tulisan aksara lebih ke pesisir Sunda,” kata Kimo.

Dari segi Computer Generated Imagery (CGI) film ini terbilang cukup bagus kualitasnya. Seperti adanya kolom yang menjadi pintu masuk antara dunia nyata dan dunia ghaib yang menjadi jalan perpindahan dua alam yang dialami oleh Linda dan kawan – kawan.

Hantu – hantu di game ‘DreadOut’, seperti mayat hidup dan pocong besar yang membawa celurit, juga terlihat ada dalam adaptasi filmnya. Namun, terdapat penambahan jalan cerita di beberapa bagian film.

Dari segi cerita alurnya tergolong lambat, dari awal film hingga seperempat film masih masuk akal beberapa adegan yang disugguhkan, namun selanjutnya masuk adegan – adegan yang mulai tidak masuk akal. Misalnya adegan ketika Linda dikejar para hantu di alam ghaib yang akhirnya ia bisa mengusir mahluk halus dengan flash sebuah ponsel. Yang entah dari dasar apa flash sebuah ponsel bisa membuat para hantu termasuk hantu si kebaya merah takut dan musnah gara – gara flash ponsel yang baterai nya ga habis – habis padahal sudah terendam air saat perpindahan alam.

Mengenai logat sunda yang ada di dalam film ini dikatakan sang sutradara justru terdengar logat sunda tak terasa di dialog – dialog dalam film ini, dari awal film dan akhir film justru dialog Sunda tak banyak di pergunakan. Hanya pada saat Linda membaca mantra, hantu kebaya merah berdialog, Jefri Nichol hanya beberapa kali menggunakan logat sunda.

Film ini bercerita tentang sekelompok siswa SMA yang berharap mendapatkan popularitas di media sosial. Mereka pergi ke sebuah apartemen kosong pada malam hari sembari merekam kegiatan selama di sana. Tokoh bernama Linda tak sengaja membuka portal misterius dan membangunkan penunggu gaib di gedung tersebut.

Film yang merupakan sebuah prekuel sebuah game ini diproduksi oleh GoodHouse.id yang mengandeng Nimpuna Sinema, Lyto Game, Sky Media dan rumah produksi asal Korea Selatan CJ Entertainment

Film yang akan tayang pada tanggal 3 Januari 2019 dengan didukung oleh pemain seperti  Caitlin Halderman, Jefri Nichol, Irsyadillah, Marsha Aruan, Ciccio Manassero, Rima Melati, Mike Lucock dan pemain lainnya. Oh sekedar mengingatkan, film ini masuk dalam kategori 17 tahun + ya. Jadi yang belum 17 tahun + jangan nonton film ini. (@enny_hdyn).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

UA-131866695-1