Scroll to Top

Kurangnya Fasilitas Bermusik Di Daerah Masing – Masing Tak Mengurangi Semangat Arashel Dan ProjectKita Di IIMF – PRI 2018

By admin / Published on Wednesday, 08 Aug 2018 04:47 AM / No Comments / 146 views
Arashel (Purwakarta) dan ProjectKita (Garut) bersama Harry Koko Santoso (Deteksi Production) di Melody Music Bar And Lounge

Cadaazz.com – Ikut sertanya musisi – musisi daerah di ajang International Indie Music Festival (IIMF), Pekan Raya Indonesia bakal memperkaya dan menambah semarak acara yang akan digelar di ICE BSD, 27 Sept sampai 7 Okt depan. Berbagai cerita menarik berhasil redaksi simak dari beberapa musisi dan group band indie yang sempat terlibat di pre event IIMF – PRI 2018 yaitu Indie Season Road To IIMF – PRI 2018 yang digelar setiap hari mulai dari tanggal 2 juli lalu sampai menjelang bulan September depan.

Arashel – Purwakarta

Dalam acara Indie Season Road To IIMF – PRI 2018 yang setiap harinya digelar di Melody Music Bar and Lounge, Grandkemang Hotel, Jakarta selatan, para group band indie di persilahkan tampil memamerkan karya lagu dan musik terbaik mereka di depan teman – teman media / wartawan yang sengaja di undang untuk berinteraksi langsung dengan para musisi – musisi indie tersebut.

ProjectKita – Garut

Banyak cerita yang menjadi catatan teman – teman media berkaitan dengan cerita pengalaman para musisi indie di daerah dalam berjuang menjadi musisi yang professional diantaranya adalah masalah fasilitas. Hal ini sempat di ceritakan oleh dua group band daerah yaitu Arashel asal Purwakarta dan Projectkita asal Garut. Kegua group band tersebut memiliki pengalaman yang sama dalam merasakan kurangnya dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan bermusik.

Shinta ProjectKita

Arashel dan Projectkita adalah group band yang sama – sama punya potensi, keduanya sudah meiliki karya – karya yang membanggakan, keduanya juga merupakan asset daerahnya masing – masing. Arashel dibentuk pada tahun 2014 di Purwakarta, diatas panggung Arashel tidak hanya membawakan lagu – lagu cover version yang sering mereka mainkan di café – café seputaran Purwakarta namun juga membawakan lagu – lagu ciptaan sendiri yang cukup bagus. Tarikan suara Han, sang vokalis yang beda – beda tipis dengan Pasha Ungu mempunyai daya Tarik tersendiri bagi penonton yang menyaksikan aksi panggung Arashel.

Tidak jauh berbeda dengan Arashel, band asal Garut, ProjectKita juga telah membuktikan aksi panggung terbaiknya di ajang Indie Season RiOad To IIMF – PRI 2018. Yang membuat beda ProjectKita dengan Arashel adalah seluruh personil ProjectKita hanya fokus pada lagu – lagu karya sendiri. Band yang di motori oleh Yudha (Vokalis) ini memang di bentuk untuk membesarkan group band melalui lagu – lagu karya sendiri saja. ProjectKita memiliki daya Tarik tersendiri karena mempunyai satu personil cantik bernama Shinta yang berposisi sebagai gitaris. Keberadaan Shinta tentu menjadi nilai jual tersendiri bagi ProjectKita disetiap mereka manggung.

Curhatan Arashel dan ProjectKita tentang minimnya fasilitas bermusik plus sulitnya mengurus ijin melangsungkan acara konser musik di daerah masing – masing pasti juga dialami musisi – musisi indie di daerah – daerah lain juga, semoga pemerintah daerah bisa mendengar aspirasi para seniman musik di daerahnya masing – masing agar perkembangan musik dan musisi bisa berjalan lancar tidak kalah dengan musisi – musii yang ada di ibukota. @fransiscuseko19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.