Scroll to Top

Puncaki Penghargaan Di FFI 2017, Night Bus Di Putar Premiere Di Ajang Far East Film Fest

By admin / Published on Saturday, 05 May 2018 08:05 AM / No Comments / 98 views
Emil Heradi – Night Bus

Cadaazz.com – Film ‘Night Bus’ mengadakan pemutaran / world premiere di Far East Film Festival (FEFF) yang diselenggarakan pada 20-28 April 2018 di Udine, Italia. ‘Night Bus’ diputar sebagai Closing Film bersanding dengan film ‘Throw Down’ karya Johnnie To, sutradara senior asal Hong Kong, pada 28 April di Teatro Nuovo Giovanni da Udine, yang merupakan venue utama festival ini dengan kapasitas 1,200 kursi.

Tak disangka-sangka perjalanan ‘Night Bus’ sampai ke Udine, Italia berawal dari Sabrina Baracetti yang tertarik setelah menonton Night Bus, ketika itu ia hadir di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2017. Sabrina merupakan Festival President, Far East Film Festival, melaluinya Night Bus diundang ke festival ini. ‘Night Bus’ masuk ke dalam kategori ‘White Mulberry Award’ yaitu penghargaan untuk film panjang pertama atau kedua sang sutradara. Juri kompetisi terdiri dari Albert Lee, Produser film dari Hong Kong, Peter Loehr, Produser film dari Amerika dan penulis skenario dari Italia, Massimo Gaudioso. ‘Night Bus’ berkompetisi dengan 20 film dari berbagai negara Asia lainnya seperti Korea Selatan, Taiwan, China, Singapura, Thailand, Filipina, Hong Kong dan Vietnam.

Emil Heradi Night Bus Interview

Far East Film Festival merupakan film festival terbesar di Eropa yang mendedikasikan dirinya untuk mengapresiasi film-film dari Asia yang diselenggarakan tiap tahun di Udine, Italia. Seperti yang disebutkan majalah Variety, FEFF masuk ke dalam top 50 film festival terbaik di dunia. Festival ini bertujuan untuk membangun pengetahuan bersama melalui medium film dan menciptakan mutual exchange yang bermanfaat antara Timur dan Barat. Tahun ini FEFF memasuki usianya yang ke 20 tahun, menayangkan 81 Films dari 11 negara Asia. Film-film karya pelaku film ternama di Asia seperti Ryuichi Sakamoto, Johnnie To dan Wong Kar Wai juga ikut tampil di Festival ini. Selain itu mewakili Indonesia ada film ‘Pengabdi Setan’ yang disutradarai Joko Anwar dan ‘My Generation’ oleh Upi Avianto.

“Suatu kebanggaan berada di sini dan terpilih menjadi film penutup di FEFF yang ke 20, Film ini diangkat dari kisah nyata di negeri saya, tapi saya pikir kisah ini memiliki ini tentang apa itu konflik secara universal. Konflik antara kelompokkelompok atas nama tanah air, agama dan lainnya, adalah inti dari mengorbankan umat manusia”, ujar Emil Heradi pada saat mempersembahkan ‘Night Bus ’di FEFF

Emil Heradi, merupakan sutradara muda lulusan Institut Kesenian Jakarta yang telah menyutradarai banyak film pendek, salah satu film pendeknya ‘Rumah Perkara’ masuk ke dalam omnibus ‘Kita vs Korupsi’ (2012). Pada tahun 2013, Emil menyutradari film panjang pertamanya yang berjudul ‘Sagarmatha’. Night Bus adalah debut kedua penyutradaraanya yang memenangkan kategori Film Terbaik, FFI 2017.

Film ‘Night Bus’ bergenre drama-thriller ini tayang pertama kali di Indonesia pada April 2017. Film ini mengangkat tema konfilk dan kemanusiaan serta memiliki cerita nan apik dan sinematografi yang mencekam mendukung film ini, dibintangi oleh bintang-bintang terbaik tanah air seperti Tio Pakusadewo, Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi, Donny Alamsyah dan bintang-bintang berbakat lainnya. Perjalanan ‘Night Bus’ terus berlanjut sampai akhirnya memenangkan 6 penghargaan pada ajang penghargaan film terbesar di Indonesia, Festival Film Indonesia (FFI) 2017.

Emil Heradi Night Bus World Premiere

‘Night Bus’ meraih penghargaan untuk kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penata Busana Terbaik hingga Penata Rias Terbaik. Tak berhenti berjalan ‘Night Bus’ hadir kembali di bioskop-bioskop Indonesia pada November 2017 bertemu penonton yang belum sempat menyaksikannya. Hingga saat ini ‘Night Bus’ masih travelling ke komunitas film, sekolah-sekolah dan universitas di beberapa kota di Indonesia.

Sinopsis Night Bus

Bis Babad mengangkut beberapa penumpang menuju Sampar, sebuah kota yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya namun terjadi konflik berkepanjangan. Sampar dijaga ketat oleh aparat pemerintah pusat yang siap siaga melawan pasukan Samerka (Sampar Merdeka), para milisi pemberontak yang menuntut kemerdekaan atas tanah kelahiran mereka. Setiap penumpang bis memiliki tujuannya masing- masing : mencari penghidupan yang lebih baik, memenuhi kebutuhan keluarga, menyelesaikan masalah pribadi atau sesederhana ingin pulang ke kampung halaman. Mereka berpikir bahwa ini akan menjadi perjalanan seperti biasa, tanpa mereka sadari ada penyusup masuk ke dalam bis, membawa pesan penting yang harus di sampaikan ke Sampar. Kehadiran penyusup membahayakan semua penumpang, orang paling dicari oleh kedua pihak yang bertikai, perintahnya temukan hidup atau mati! Di antara desingan peluru, tidak ada yang tahu, siapa akan hidup dan siapa akan mati! (SPR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *