Scroll to Top

Album Ke 2 “Cause : The Man In Suit”, Sebuah Perubahan Radikal

By Fransiscus Eko / Published on Thursday, 23 Jun 2016 06:26 AM / No Comments / 716 views

Cause

Cadaaz.com – Bagi sebagian orang perubahan adalah momok yang menakutkan, mereka yang tidak menyenangi perubahan akan melakukan aksi bertahan demi memperjuangkan sebuah kondisi yang mereka idamkan. Sedangkan bagi mereka yang menyenanginya, perubahan adalah sebuah angin segar pembaharuan, sebuah penyegaran. Sebagai buah dari hasil inovasi, perubahan tidak hanya memegang peran dalam aspek kehidupan saja, tapi juga dalam aspek berkesenian seperti musik. Musik sebagai buah hasil karya manusia pun akan selalu mengalami perubahan dan tidak bersifat tetap tanpa harus meninggalkan benang merah yang menjadi pondasi awal dari suatu karya. Perubahan adalah sebuah kondisi yang tak dapat terelakkan dan diperlukan bagi tiap-tiap entitas individu mapun kelompok dalam musik, walaupun pada penerapannya perubahan bak pisau bermata dua yang bisa berbalik menyerang. Dalam diri “Cause”, perubahan adalah hal utama yang mereka tawarkan pada album keduanya, “The Man In Suit”.

Terbentuk pada tahun 2008, Cause merupakan band pop asal Bogor berisikan para personil yang sudah cukup lama malang melintang di komunitas musik lokal Bogor. Berbekal debut album “Dialog” yang dirilis pada awal 2010 lalu, band yang dimotori oleh Randy Asra Dahnial (Vokal/Gitar), Dito Buditrianto (Gitar), Ryan Rifkianda (Bass), Edu Christanto (Keyboard/Synthesizer), serta Dely Tambunan (Drum) ini mulai menyeruak ke permukaan dan menuai banyak respon positif dari berbagai media maupun pendengar musik dengan skala luas. Tak cukup dengan “Dialog”, mereka pun merilis album “B-Sides & Other Stuff” yang berisi lima lagu secara bebas unduh melalui netlabel Hujan! Rekords.

“B-Sides & Other Stuff bagi kami merupakan jembatan penghubung antara album Dialog dan The Man In Suit, agar mereka yang terbiasa mendengarkan musik Cause di Dialog tidak terlalu kaget ketika mencerna The Man In Suit,” tutur Randy.

Meski tetap menyajikan musik berbenang merah Pop, namun “The Man In Suit” menampilkan sisi lain dari Cause, sebuah sisi yang sempat terpendam cukup lama.

“Pada saat pengerjaan album Dialog kami banyak berkompromi dengan produser dan label, pada saat itu orientasi kami adalah pasar, walaupun pada akhirnya materi di album tersebut seperti berada di tengah-tengah. Berbeda dengan The Man In Suit dimana kami benar-benar terlibat penuh dari tahap produksi sampai dengan konsep packaging dan kami berkompromi hanya antar personil,” ujar Randy.

Hasilnya? Sebuah album konsep berisikan 8 lagu berbahasa inggris yang saling menyambung dan sarat akan nuansa Folk, Chamber Pop, bahkan Post-Rock, dengan sound yang lebih lebar dan megah. Pengaruh dari band-band seperti Fleet Foxes, Mumford & Sounds, Rufus Wainwright, dan Radiohead, menjadi acuan yang mereka ‘tabrakkan’ dengan indah.

IMG_3645

“The Man In Suit” merupakan rekam jejak revolusi dan eskperimen musikal Cause yang melampaui stereotype lama mereka sebagai sebuah band Pop dengan musik easy listening. Karakter sound lama dari Cause memang tidak benar-benar hilang, hanya saja disuguhkan berbentuk lebih minimalis dengan beragam bunyi instrumen yang saling mengisi dan tak berlebihan. Raungan gitar elektrik yang biasa mendominasi kini digantikan oleh harmoni instrumen akustik serta pemakaian piano dan string yang lebih dimaksimalkan, hal ini menjadikan lagu-lagu di album “The Man In Suit” terasa lebih atmosferik serta melankolis. Suasana yang telah dibangun juga tak lepas dari kontribusi departemen bass serta drum yang saling mengisi dan menjadi perekat dari semua instrumen dan bebunyian yang terdengar hangat dan meruang. Keseluruhan sound tersebut kemudian dipoles sedemikian rupa pada proses mastering oleh tangan dingin Ari Aru‘ Renaldi yang juga turut membidani album Mocca, Tulus, serta Vidi Aldiano. Dari departemen lirik, Cause menampilkan sisi personal yang lebih sentimental dengan bahasan beragam seputar keluarga, tragedi, pertemanan, dan hidup secara general.

“Album ini bagi saya pribadi merupakan sebuah memorabilia yang di dedikasikan untuk anak saya. Album ini adalah jawaban dari semua pertanyaan yang mungkin akan ia lontarkan dimasa depan, itulah mengapa tiap bagian dari album ini terasa begitu personal bagi dan menjadi satu kesatuan utuh,” ucap Randy.

Tidak hanya dari segi musik dan lirik, sentuhan visual pada album ini pun digarap secara serius dengan menggandeng dua orang kolaborator. Hasilnya? Sebuah konsep packaging album berbentuk booklet berisikan lirik berdampingan dengan 16 ilustrasi yang memanjakan mata, satu keping DVD berisi 8 video clip, dan tentu saja satu keping CD audio.

“Untuk penggarapan visual di album ini kami benar-benar membebaskan Bebe dan Konyos untuk merepresentasikan lagu-lagu kami dalam bentuk karya mereka masing-masing tanpa harus terikat dengan keseluruhan album, sehingga nantinya karya tersebut dapat melengkapi dan juga dapat berdiri sendiri,” tukas Randy.

Sebagai sebuah album, “The Man In Suit” merupakan buah dari perubahan yang tergolong radikal dan penuh eksperimentasi tanpa meninggalkan esensi Pop dari Cause yang banyak terpengaruh oleh elemen musik Britania Raya. Album ini bukan tidak mungkin akan memecah kutub pendengar lama Cause dan berpotensi menjaring pendengar baru. Suasana introspektif ‘quite-loud-quite’ a la musik Post-Rock yang bersentuhan dengan harmoni vokal dan instrumen akustik nan folky berpotensi menjadikan “The Man In Suit” terasa lebih menarik dan memberikan pengalaman berbeda ketika mendengarnya, serta bukan tidak mungkin akan menjadi sebuah album‘evergreen’ yang tak lekang oleh zaman. Bagi Cause, “The Man In Suit” adalah sebuah perayaan kehidupan dari perubahan yang menyenangkan dan penuh kejujuran. Sebuah perubahan segar yang indah dan tak terelakkan. Selamat mendengarkan perubahan dan risalah personal yang dinyanyikan. Selamat. @siaranpersresmi @gilangnugraha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *